Review Toy Story 5 (2026), Dilema Mainan Klasik di Tengah Gempuran Teknologi

Table of Contents
Review film Toy Story 5

Salah satu franchise animasi terbaik sepanjang masa, Toy Story, merilis film yang kelima di bulan Juni 2026. Bagi anak-anak yang besar di tahun 2000-an, tentu sepakat kalau Toy Story termasuk karya terbaik yang dimiliki oleh Disney Pixar.

Sejak pertama kali dirilis pada tahun 1995, Toy Story selalu membawakan kisah klasik tentang petualangan Woody, Buzz, serta mainan lainnya yang selalu dihadapi dengan berbagai masalah. Para mainan ini hanya memiliki satu tujuan, yakni ingin dicintai dan dimainkan oleh pemiliknya.

Setelah 31 tahun semenjak film pertamanya rilis, kini Disney Pixar menggunakan formula berbeda pada film kelimanya. Dimana cerita pada film kali ini mengangkat isu yang relate dengan apa yang terjadi saat ini. Tak heran banyak yang menaruh ekspektasi lebih, apalagi setelah cerita sebelumnya Toy Story 4 dinilai penuh milking nostlagia. 

Cerita Toy Story 5 berlatar pasca film keempatnya, dimana Jessie, Buzz dan mainan lainnya kini sudah didonasikan dan menjadi mainan milik Bonnie. Namun permasalahan datang ketika Bonnie kini dibelikan perangkat digital, dan mulai banyak menghabiskan waktu untuk memainkan gadgetnya. Perkembangan teknologi membuat anak-anak mulai melupakan arti mainan yang sesungguhnya.  

Woody tak lagi jadi tokoh sentral

Di Toy Story 5 karakter Woody tidak lagi mendapat banyak spotlight seperti film-film sebelumnya, tetapi dia tetap tampil sebagai karakter pendukung. Alih-alih menunjuk Buzz Lightyear untuk menggantikan peran sahabatnya itu, Disney justru membuat Jessie tampil lebih dominan di film kali ini. 

Padahal kita tahu bahwa selama ini Buzz lah yang menjadi second lead dalam waralaba Toy Story. Namun keputusan ini terbilang tepat bahkan cukup diterima oleh para penggemar. Sebab ini menjadi momen yang tepat bagi Disney Pixar untuk mengulik lebih jauh karakter Jessie.

Dan benar saja, di Toy Story 5 kita diperlihatkan dengan tampilan dari sosok Emily, pemilik pertama Jessie. Momen emosional dalam cerita Toy Story 2 kembali diperlihatkan yang sekaligus menutup plot hole di film tersebut. Bahkan berkat kemunculan Emily, fans malah memunculkan teori baru, yaitu ibu Andy merupakan anak dari Emily.

Karakter baru Lilypad muncul membawa keresahan

Seperti di film-film sebelumnya, Toy Story selalu punya karakter antagonis yang memberikan ketegangan dalam cerita. Mulai dari Sid (Toy Story 1), Stinky Pete (Toy Story 2), Lotso (Toy Story 3), hingga Gabby Gabby (Toy Story 4). Nah, di film kelima ini karakter baru bernama Lilypad mengisi peran sebagi musuh, meskipun dia tidak sepenuhnya jahat.

Sosok tablet pintar ini menjadi tantangan yang hadir secara natural akibat dari perkembangan zaman. Kemunculan teknologi ini tentunya berdampak kepada para mainan klasik, sebab mereka menjadi terabaikan oleh pemiliknya.

Kehadiran Lilypad di rumah Bonnie, membuat Jessie dan mainan lainnya cemburu karena merasa tersaingi. Keberadaan teknologi dianggap sebagai ancaman karena dapat menggantikan peran mereka sebagai teman bermain Bonnie.

Disisi lain, kehadiran Lilypad sebenarnya diniatkan baik, yakni memudahkan Bonnie untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Pasalnya Bonnie dipandang berbeda oleh anak-anak lainnya karena lebih menyukai mainan klasik dibanding gadget.  

Mengangkat isu tentang kecanduan gadget

Keresahan para mainan yang ditinggalkan pemiliknya karena perkembangan teknologi, secara tak langsung memberi gambaran bagaimana pov orang tua ketika melihat anaknya kecanduan gadget. Tentunya narasi ini cukup relate dengan apa yang dialami banyak orang tua di dunia.

Lewat film ini, para orang tua bisa melihat bagaimana keseimbangan antara teknologi dan interaksi sosial menjadi hal yang penting terhadap tumbuh kembang anak. Selain itu, banyak pula pesan moral yang Disney Pixar sampaikan di sepanjang film Toy Story 5.

Menariknya Disney Pixar ternyata tidak menyangkal kalau teknologi juga punya sisi positif. Pasalnya berkat adanya Lilypad, Bonnie justru bisa terhubung dengan karakter bernama Blaze, hingga akhirnya mereka pun berteman baik.

Visual menarik dengan sedikit bumbu fan service

Kalau soal grafik dan kualitas gambar, Disney Pixar tidak perlu diragukan lagi. Visual Toy Story 5 mendapat upgrade yang sangat signifikan jika dibanding film-film sebelumnya. Kualitas animasi di film kelima ini sudah mencapai tingkat realisme tinggi yang didukung dengan tekstur karakter, pencahayaan, hingga detail refleksi.

Tak hanya itu, Disney Pixar juga menambahkan beberapa fan service menarik, seperti menampilkan mainan Buzz Lightyear yang lebih modern. Dimana Buzz versi baru ini punya fitur untuk terbang layaknya drone dan mampu terhubung dengan jaringan internet. Yang mana imajinasi sebenarnya sudah harus muncul sejak awal cerita.

Fan service lainnya datang dari sisi musik, dimana Taylor Swift ikut menyumbang lagu baru berjudul I Knew It, I Knew You. Lagu ini suskes membawa suasana baru yang segar, tapi tetap menjaga ciri khas dan tradisi film sebelumnya.

Penutup

Bisa dibilang Toy Story 5 menjadi film yang tidak benar-benar ditujukan kepada anak-anak saja, tetapi juga para orang dewasa yang telah tumbuh bersama franchise ini. Layaknya film Disney Pixar pada umumnya, alur cerita Toy Story 5 masuk kategori ringan dan mudah dipaham, sehingga tetap ramah ditonton bersama keluarga. 

Hanya saja, bagi penonton baru yang tidak mengikuti kisah petualangan Woody dan kawan-kawan dari awal, mungkin akan sedikit kebingungan dengan latar belakang dan dinamika hubungan antar-karakter yang muncul di sepanjang film.

Namun, kekurangan minor tersebut berhasil ditutupi oleh pesan moral mendalam yang disampaikan secara emosional. Film ini dengan cerdas memperlihatkan tantangan generasi masa kini, di mana kecanggihan teknologi sering kali mengikis kehangatan interaksi nyata. Melalui dilema yang dihadapi Bonnie maupun Jessie, penonton diajak untuk merenungkan kembali bagaimana cara menyikapi digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari secara bijak, terutama dalam konteks pola asuh anak. 

Pada akhirnya, Toy Story 5 memberikan sebuah konklusi yang realistis dan dewasa: kita tidak bisa benar-benar menolak perkembangan zaman, melainkan harus bisa beradaptasi dan berjalan berdampingan dengannya. Alih-alih menjadi sekadar ajang milking nostalgia, film kelima ini sukses membuktikan dirinya sebagai sebuah sekuel yang relevan, menyentuh, dan penting untuk disaksikan oleh lintas generasi di era digital ini.

Afif Dalma
Afif Dalma Blogger yang suka nulis karena memang hobi.

Post a Comment