Review Silo (2023), Ketika Ribuan Manusia Bertahan Hidup di Bawah Tanah

Daftar Isi

Beberapa hari lalu saya tak sengaja melihat cuplikan singkat sebuah serial televisi yang mengingatkan kembali dengan series The 100. Akhirnya karena penasaran saya pun langsung mencari tahu lebih lanjut, lalu mendapati bahwa series tersebut berjudul Silo. Sebenarnya jauh sebelum itu, salah seorang teman saya sempat merekomendasikan judul tersebut tapi tidak saya gubris.

Pasalnya setelah mendengar kata Silo rasanya sudah tak asing lagi, mengingat saya bekerja di perusahaan manufaktur. Karena sependek yang saya tahu kalau istilah Silo merujuk pada suatu bangunan berbentuk silindris sebagai wadah penyimpanan bahan baku (raw material). Alhasil saya langsung berpikir kalau serialnya bakal punya premis sederhana dan membosankan, terlebih lagi saya tidak menemukan esensi dari judulnya.

Namun setelah menonton dua episode, saya benar-benar terpikat dengna ceritanya yang ternyata cukup kompleks dan penuh misteri. Serial ini sungguh bikin saya de javu dengan The 100. Keduanya sama-sama punya genre tentang distopia serta pasca-apokaliptik, dengan menonjolkan unsur survival generik yang mendebarkan.

Sinopsis Silo Season 1

Berlatar sekitar 300 tahun setelah peristiwa yang menghancurkan dunia, membuat permukaan bumi tercemar dan tidak layak untuk dihuni. Kini ribuan umat manusia bertahan hidup di sebuah bunker raksasa  (Silo) yang berada jauh di bawah tanah. Silo memiliki 144 lantai dan dibagi menjadi tiga bagian yaitu tingkat atas, tingkat tengah, dan tingkat bawah, dimana ketiganya punya fungsi yang berbeda-beda.

Setelah diberitahu kalau dunia luar sudah tidak aman, pada 140 tahun lalu sebelum cerita dimulai, sempat terjadi upaya pemberontakan sehingga diciptakanlah aturan hukum yang disebut The Pact. Aturan tersebut membuat kehidupan warga Silo terkendali, sebab bagi siapapun yang melanggar akan terkena sanksi. Adapun sanksi terberat adalah melakukan pembersihan (cleaning), dimana pelanggar akan dilepaskan ke permukaan bumi menggunakan kostum bak astronot untuk membersihkan kamera luar sebelum akhirnya tewas dalam hitungan menit. 

Kamera tersebut tersambung ke sebuah layar utama di tingkat atas, menampilkan keadaan di luar Silo yang terlihat gersang dan tanpa kehidupan. Departemen penegak hukum, Yudisial, membuat narasi bahwa manusia di dalam Silo akan baik-baik saja selama berada di dalam bunker. 

Review Silo Season 1

Semua konflik berawal ketika Allison Lawson, istri dari Sheriff Holston, yang mulai meragukan narasi Yudisial yang mengkalim bahwa dunia luar tidak bisa dihuni manusia. Kemudian disisi lain ia bersama George Wilkins menemukan sebuah rahasia kelam dan data masa lalu yang tersimpan di sebuah hard drive tua peninggalan sebelum masa pemberontakan 140 tahun lalu.

Hal tersebut membuatnya dihukum untuk melakukan cleaning dan berakhir tewas di permukaan. Kematian Allison tentu membuat Sheriff Holston terpukul, sehingga membuatnya dengan sukarela pergi mengajukan permintaan ke luar Silo demi mengetahui kebenaran sekaligus menyusul sang istri.

Sebelum menemui ajalnya, Holston sempat menyelidiki kematian misterius George Wilkins, yang ternyata memiliki hubungan romansa dengan Juliette Nichols, pemeran utama di serial ini. Juliette sendiri merupakan seorang mekanik yang tinggal di tingkat terbawah, lalu kemudian beralih profesi menjadi sheriff setelah mendapat wasiat dari Holston.

Pada awalnya Juliette memutuskan menerima jabatan Sheriff demi mengungkap dalang kematian kekasihnya. Namun tujuannya berubah seiring terbongkarnya misteri dibalik keberadaan Silo. Ia harus melawan para penguasa otoriter seorang diri, sehingga tak jarang kita akan melihat aksi kejar-kejaran di tempat yang secara logika terasa sempit dan mengurung, namun secara dimensi struktur sebenarnya sangat luas dan masif.

Kemudian, hal lain yang membuat serial ini menarik adalah sebagian besar karakter yang muncul punya kesinambungan satu sama lain, sehingga membuat premis cerita makin intens. Konflik yang dihadirkan memang tampak sepele, pencarian kebenaran berhadapan dengan kontrol absolut. Unsur politiknya pun sangat kentara, sehingga cerita ini tidak sekedar memperlihatkan aksi pemberontakan, tetapi juga bagaimana sebuah konspirasi besar dapat terbentuk dan mengubah cara pandang seseorang.

Bernard Holland yang kini menjadi walikota sementara, hadir sebagai antagonis utama dengan sifat penuh manipulatif, kejam, serta rela menghalalkan segala cara untuk membungkam para anomali yang mengancam tatanan sistem. Meski begitu, jika melihat dari pov Bernard ia tidak sepenuhnya jahat, sebab segala tindakannya bukan untuk kepuasan pribadi, melaikan demi keberlangsungan hidup ribuan umat manusia di dalam Silo. 

Kemudian dari sisi sinematografi, serial ini berhasil menciptakan nuansa distopia yang imersif, dengan memperlihatkan arsitektur Silo yang cukup detail di setiap adegan. Kemudian visual tone yang digunakan sangat menyatu dengan background dalam tempat tertutup yang minim pencahayaan.

Secara keseluruhan serial Silo season 1 layak untuk dinikmati bagi kamu yang suka cerita misteri. Bahkan dengan total 10 episode masih kurang untuk menjawab rasa penasaran saya, untungnya serial ini punya empat season, dimana season terakhir dikonfirmasi akan tayang pada 2027 mendatang. Sayangnya Silo sepertinya tidak direkomendasikan kepada kalian yang punya phobia terhadap ruang sempit, tertutup, dan terisolasi. 

Afif Dalma
Afif Dalma Blogger yang suka nulis karena memang hobi.

Posting Komentar