Pengalaman Pertama Naik Bus Ekonomi Kampung Rambutan-Cirebon

Afif Dalma
November 08, 2022
0 Comments

Halo semuanya, di artikel kali ini saya mau share pengalaman pertama kali naik bus ekonomi dari Kampung Rambutan (Jakarta Timur) ke Cirebon. Oh iya, saya aslinya berasal dari kota Bandar Lampung dan sekarang lagi merantau ke Cirebon.

Biasanya saya kalau ke Cirebon itu dari Lampung naik bus Damri tujuan Gambir, kemudian dilanjutkan naik kereta api dan turun di Stasiun Kejaksan Cirebon. Namun perjalanan kali ini berbeda dari biasanya.

Pada akhir Oktober lalu saya berangkat dari Lampung pukul sembilan pagi dan tiba di Gambir pukul empat sore. Saya langsung buru-buru ke loket karena takut kehabisan tiket, tapi sialnya saya malah gak diperbolehkan naik kereta api.

Saya cukup kebingungan karena belum pernah naik transportasi lain untuk menuju Cirebon. Ditambah saya benar-benar buta map karena belum pernah liburan ke Jakarta, dan juga saya gak punya saudara disana (ada sih tapi di Bekasi, lumayan jauh).

Untungnya saya punya teman yang merupakan seorang perantau di Jakarta. Saya benar-benar bersyukur bisa kenal dengannya. By the way, kami berkenalan lewat sebuah game online PC beberapa tahun yang lalu. Dan fun factnya, ini merupakan kali pertama kami bertemu. 

Beberapa minggu sebelum berangkat saya memang sudah menghubungi dia. Kemudian dia pun menjemput saya di Gambir padahal rumahnya di daerah Jakarta Timur. 

Karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, saya memutuskan untuk bermalam di rumahnya dan berangkat besok paginya. 

Jujur, sebenarnya saya merasa gak enak karena baru pertama kali ketemu udah ngerepotin. Tapi teman saya ini orangnya sangat welcome sekali, sehingga saya pun merasa nyaman selama berada di rumahnya. 

Dia turut membantu saya mencari informasi mengenai bus jurusan Jakarta-Cirebon. Teman saya ini baru beberapa tahun tinggal di Jakarta dan jarang ke luar kota, sehingga dia juga masih asing dengan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).  

Bermodalkan informasi dari aplikasi pemesanan tiket bus, saya memutuskan untuk naik bus Sinar Jaya tujuan Cirebon dari stasiun Kampung Rambutan dengan jadwal keberangkatan jam 7 pagi. 

Besoknya paginya kami berangkat menuju terminal Kampung Rambutan, dan ternyata disana gak ada loket pemesanan tiket. Tiket hanya bisa dipesan via online atau beli langsung ke keneknya. 

Sialnya, setelah bertanya ke kenek Sinar Jaya ternyata tiket bus harus dipesan satu jam sebelum keberangkatan, sedangkan saya datang 20 menit sebelum jadwal keberangkatan.

Alhasil mau gak mau saya harus mencari alternatif bus lain yang bisa tiba di Cirebon sebelum malam hari. Setelah teman saya bertanya ke petugas setempat, saya diarahkan untuk naik salah satu bus ekonomi jurusan Kampung Rambutan-Cirebon dengan jadwal keberangkatan pukul tujuh pagi.

Sebenarnya saya ragu untuk menaiki bus ini karena secara tampilan busnya benar-benar kusut dan tentunya gak ada AC-nya. Selain itu harganya pun tergolong mahal untuk fasilitas yang jauh dari kata layak. Mungkin teman-teman yang sering naik bus di terminal Kampung Rambutan tahu bus yang saya maksud.

Namun karena itu satu-satunya transportasi yang tersedia, tanpa pikir panjang saya langsung naik bus tersebut. Pak supir menjanjikan bahwa bus akan tiba tepat waktu yaitu pukul 12.30 WIB (sudah termasuk antisipasi macet) di terminal Harjamukti Cirebon. 

Sambil berjalan memasuki bus, saya komat-kamit baca mantra berharap ada penumpang lain yang sudah duduk duluan. Tapi ternyata bus masih kosong, saya jadi penumpang pertama yang menaiki bus tersebut.

Oh shit!

Kondisi bus bener-bener kotor ditambah kursinya yang sudah compang-camping dengan susunan kursinya yaitu 2 di kiri dan 3 di kanan. Saya memilih untuk duduk di kursi baris kedua sebelah kanan, dengan posisi dua tas saya taruh di dekat jendela, kantong plastik berisi bekal makanan saya taruh di kursi tengah, sedangkan saya duduk di kursi paling kiri. Jadi 3 kursi penumpang itu saya tempati semua wkwkwk. 

Sebelum bus berangkat teman saya mewanti-wanti untuk tetap waspada demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebenarnya tanpa diberitahu pun saya pasti melakukannya. Terlebih lagi saya membawa tas berisi laptop dan berkas-berkas penting.

Akhirnya bus berjalan dengan kecepatan perlahan. Saya memutuskan untuk gak tidur ataupun membuka handphone sampai ada penumpang lain yang naik. Sebelum memasuki tol Cikampek barulah banyak penumpang yang naik ke dalam bus tersebut.

Meskipun bus sudah lumayan berisi masih agak sulit rasanya untuk memejamkan mata. Akhirnya saya putuskan untuk terus melek sambil menikmati suasana perjalanan. Itung-itung sebagai pengalaman pertama sekaligus terakhir saya menaiki bus ini wkwkw.

Setelah keluar dari tol Cikampek rasa kewaspadaan saya justru naik ke tingkat maksimal. Pasalnya ada banyak pengamen yang turun naik sampai gak kehitung jumlahnya. Setiap kali bus berhenti untuk mengambil atau menurunkan penumpang, para pengamen dan pedagang asongan menyelinap masuk sehingga membuat saya risih.

Sebenernya saya gak ada masalah, toh mereka juga sedang mencari rezeki, tapi yang jadi masalah itu ada beberapa oknum pengamen dan penjual yang terkesan memaksa penumpang untuk merogoh kocek mereka, bahkan ada juga yang menyindir sampai memelototi penumpang. 

Memasuki daerah Subang, bus semakin padat dan sesak karena selain pedagang asongan dan pengamen, ada juga ibu-ibu penyanyi dan penjual buah yang ikut meramaikan suasana bus tersebut. Jujur, saya benar-benar pusing dan gak tahan mendengar penyanyi ini, karena setiap 10-20 menit sekali mereka naik secara bergantian.

Kemudian memasuki daerah Indramayu keadaan makin ramai, saya pun sampai terpaksa membagi tempat duduk dengan penumpang lain. Selama kurang lebih 20 menit saya perhatikan dulu apakah penumpang disebelah saya ini mencurigakan atau tidak.

Setelah tahu kalau dia adalah seorang karyawan, barulah saya memutuskan untuk tidur sebentar demi mengurangi rasa lelah. Perjalanan yang katanya hanya 5-6 jam berubah menjadi 9 jam. Saya kesal bukan main, pengen komplain tapi takut dikeroyok sama supir dan keneknya.

Pada akhirnya bus baru memasuki daerah Cirebon pada pukul setengah 4 sore. Penumpang yang tersisa hanya tinggal beberapa orang saja. Saya pikir nasib apes saya sudah selesai karena bus sudah memasuki tol Ciperna yang artinya sebentar lagi sampai di tujuan akhir terminal Harjamukti.

Namun lagi-lagi pak supir enggak memegang omongannya, saya malah disuruh turun di tengah jalan dengan alasan ingin mengambil penumpang di Kuningan. Dengan muka masam saya langsung turun dari bus tersebut dan segera memesan ojek online.

Pada intinya first impression saya terhadap bus ekonomi itu enggak banget, mulai dari alasan kenyamanan hingga ketepatan waktu membuat saya kapok naik bus ekonomi. Walaupun saya tahu kalau masih banyak jenis atau merk bus lainnya yang lebih layak daripada bus yang saya naiki ini, tapi saya sudah terlanjur kecewa.

Disclaimer, artikel ini bukan untuk menjelekkan pihak tertentu, saya hanya ingin mencurahkan sekaligus membagikan pengalaman pertama saya naik bus ekonomi.

Sumber gambar: unsplash.com

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan sopan :)